Kapur Jadi Kunci Smelter Nikel RI, Peluang Besar Industri Tambang Domestik

Jumat, 16 Januari 2026 | 09:22 WIB Last Updated 2026-01-16T02:22:46Z

 


JAKARTA, JBN Indonesia — Hilirisasi nikel yang menjadi tulang punggung transformasi industri nasional ternyata memiliki satu bahan baku krusial yang kerap luput dari sorotan publik: kapur. Tanpa material ini, proses produksi nikel di smelter tidak akan berjalan optimal, bahkan mustahil menghasilkan nikel siap pakai.

Per 2025, Indonesia tercatat memiliki 44 smelter nikel aktif yang tersebar di sejumlah wilayah strategis. Berdasarkan data industri, sebaran smelter tersebut berada di Maluku Utara (18 smelter), Sulawesi Tengah (17 smelter), Sulawesi Tenggara (3 smelter), dan Sulawesi Selatan (1 smelter). Seluruh fasilitas ini memiliki satu kebutuhan yang sama dan bersifat mutlak: pasokan kapur dalam jumlah besar dan berkelanjutan.

Dalam proses pirometalurgi maupun hidrometalurgi, kapur berfungsi sebagai flux utama untuk mengikat pengotor (impurities) dan menstabilkan reaksi kimia pada suhu tinggi. Tanpa kapur, nikel tidak dapat dimurnikan secara optimal.

Dengan kapasitas produksi smelter yang terus meningkat seiring ambisi Indonesia menjadi pemain utama baterai kendaraan listrik dunia, kebutuhan kapur pun melonjak signifikan. Ini membuka peluang besar bagi industri tambang kapur nasional untuk naik kelas dan menjadi bagian integral dari ekosistem hilirisasi.

Indonesia sejatinya memiliki cadangan kapur yang melimpah, tersebar dari Jawa, Sumatera, hingga kawasan timur Indonesia. Namun, tantangan terbesar bukan pada ketersediaan, melainkan lokasi dan logistik.

Sebagian besar tambang kapur berada puluhan kilometer dari laut, sementara smelter nikel mayoritas berlokasi di wilayah pesisir dan kepulauan. Kondisi ini membuat ongkos angkut menjadi faktor penentu daya saing.

Di tengah kebutuhan besar tersebut, Bandar Indonesia Grup (BIG) muncul sebagai salah satu pemain strategis. BIG tercatat memiliki 275 tambang kapur yang tersebar di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Menariknya, puluhan tambang BIG di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, berada langsung di tepi laut.

Lokasi ini dinilai sangat strategis karena memungkinkan pengiriman kapur menggunakan jalur laut langsung ke kawasan smelter nikel di Maluku dan Sulawesi, dengan biaya logistik yang jauh lebih efisien.

“BIG menyiapkan tambang kapur di Sumenep yang posisinya tepat di pinggir laut untuk menjadi supplier kapur smelter nikel di seluruh Indonesia,” ujar HRM. Khalilur R. Ab. S, Founder sekaligus Owner Bandar Indonesia Grup.

Kehadiran tambang kapur tepi laut dinilai mampu memangkas biaya logistik secara signifikan, sekaligus meningkatkan daya saing industri smelter nasional. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah untuk memperkuat rantai pasok domestik dan mengurangi ketergantungan impor bahan pendukung industri.

Tak hanya itu, pengembangan tambang kapur di kawasan pesisir juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, mendorong ekonomi daerah, serta memperkuat pemerataan pembangunan industri.

Dengan target Indonesia menjadi pusat produksi nikel dan baterai dunia, kebutuhan bahan pendukung seperti kapur diproyeksikan terus meningkat dalam jangka panjang. Industri kapur nasional pun tidak lagi sekadar menjadi sektor pendukung, melainkan pilar penting dalam agenda strategis hilirisasi mineral.

“Ini bukan hanya soal bisnis, tapi juga bagian dari cita-cita besar keadilan ekonomi nasional,” tegas Khalilur.
Menutup pernyataannya, ia menyampaikan pesan kebangsaan yang menjadi landasan langkah korporasinya:
“Salam Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.”

Dapatkan Berita Terupdate dari JBN Indonesia
Hak Jawab dan Hak Koreksi melalui email: jbnredaksi@gmail.com
- Pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan ini dapat mengajukan sanggahan/hak jawab.
- Masyarakat pembaca dapat mengajukan koreksi terhadap pemberitaan yang keliru.

Follow Instagram @jbnindonesia dan Fanspage JBN Indonesia
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kapur Jadi Kunci Smelter Nikel RI, Peluang Besar Industri Tambang Domestik

Trending Now