Gus Lilur Bidik Pasar Rp11 Triliun, TBA Siap Pasok 50 Juta Ton Kalsium Karbonat di Jatim

Jumat, 23 Januari 2026 | 11:41 WIB Last Updated 2026-01-23T04:42:23Z

 


SURABAYA, JBN Indonesia — BANDAR INDONESIA GRUP (BIG) melalui anak usahanya PT Tirto Boyo Agung (TBA) membidik peluang bisnis jumbo di sektor pertambangan batu kapur. Perusahaan ini siap memasok kebutuhan kalsium karbonat untuk sembilan pabrik besar di Jawa Timur dengan total potensi pasar mencapai Rp11 triliun per tahun.

Owner dan Founder BIG, HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, mengungkapkan bahwa kebutuhan bahan baku kalsium karbonat dari sembilan perusahaan tersebut mencapai sekitar 50 juta ton per tahun. Setiap pabrik membutuhkan suplai antara 2 juta hingga 10 juta ton per tahun, tergantung kapasitas produksi.

“Harga terendah kalsium karbonat dengan spesifikasi 95% saat ini berada di kisaran Rp220.000 per ton. Kalau dikalikan kebutuhan tahunan, nilai ekonominya mencapai Rp11 triliun. Ini pasar yang sangat besar,” ujar Gus Lilur, Jumat (23/1/2026).

BIG saat ini menguasai 275 blok tambang kapur uruk yang tersebar di Jawa Timur dan Jawa Tengah, mencakup wilayah Gresik, Lamongan, Tuban, Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, serta Rembang. Tambang tersebut memproduksi kapur industri, dolomit, hingga kalsium karbonat.

Salah satu target pasar utama BIG adalah Omya Indonesia, perusahaan multinasional asal Swiss–Jerman yang memiliki tiga pabrik kalsium karbonat di Indonesia, dua di Jawa Timur dan satu di Rembang, Jawa Tengah. Menurut Gus Lilur, BIG telah memiliki blok tambang di wilayah yang berdekatan dengan lokasi pabrik Omya.

Dari sisi kualitas, TBA mengklaim memiliki keunggulan kompetitif. Berdasarkan hasil uji laboratorium Sucofindo, kandungan Calcium Carbonate (CaCO₃) pada tambang TBA mencapai 95,26% hingga 99,46%. Angka ini dinilai berada di atas rata-rata suplai yang selama ini beredar di pasar.

“Mayoritas suplai di industri berada di kisaran 95% hingga di bawah 98%. Bahkan menurut pengakuan tim geologi Omya Indonesia, mereka belum pernah mendapatkan suplai dengan spesifikasi 99% ke atas,” ungkap Gus Lilur.

Selain CaCO₃ yang tinggi, kandungan pengotor seperti silika, magnesium, aluminium, dan besi di tambang TBA tercatat sangat rendah. Hal ini membuat produk TBA cocok untuk kebutuhan industri bernilai tambah tinggi, mulai dari kertas, plastik, cat, hingga farmasi.
PT Tirto Boyo Agung sendiri telah mengantongi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) seluas 40,48 hektare di Desa Bluto, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang berlaku selama lima tahun sejak Februari 2025.


Dengan kombinasi cadangan tambang, kualitas tinggi, dan kedekatan lokasi dengan pabrik, Gus Lilur optimistis TBA mampu menjadi pemain kunci dalam rantai pasok kalsium karbonat nasional.
“Kami siap masuk sebagai pemasok utama dengan harga yang lebih kompetitif, sekaligus memastikan keberlanjutan suplai bagi industri,” pungkasnya.

Dapatkan Berita Terupdate dari JBN Indonesia
Hak Jawab dan Hak Koreksi melalui email: jbnredaksi@gmail.com
- Pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan ini dapat mengajukan sanggahan/hak jawab.
- Masyarakat pembaca dapat mengajukan koreksi terhadap pemberitaan yang keliru.

Follow Instagram @jbnindonesia dan Fanspage JBN Indonesia
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Gus Lilur Bidik Pasar Rp11 Triliun, TBA Siap Pasok 50 Juta Ton Kalsium Karbonat di Jatim

Trending Now